Seorang wartawan, teman saya juga, menanyakan tanggapan saya terhadap rencananya pemerintah menghentikan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahun 2010 mendatang. Saya bilang begini ; itu sudah tepat. Sudah terlalu banyak prediksi tentang program BLT kurang efektif yang kemudian pada kenyataannya memang terbukti tidak bisa mengurangi angka kemiskinan. Hemat saya, BLT hanyalah program pengucuran dana untuk meredam emosi rakyat menyusul kebijakan naiknya harga Bahan Bakar Minyak. Itu kemudian dipastikan bisa meminimalisir kemungkinan adanya gejolak di masyarakat. Dan alhasil, terbukti.
Faktanya adalah, masyarakat di negeri ini masih cenderung berharap-harap bantuan. Ini bisa dilihat dengan fenomena banyaknya warga yang protes karena tidak kebagian BLT. Boleh jadi sebelum adanya BLT, orang-orang malu mengaku miskin, namun saat program BLT direalisasikan, warga justru ramai-ramai ke kantor lurah melaporkan kemiskinannya. Bahkan tidak kurang yang marah-marah lantaran disebut tidak miskin dan tidak berhak menerima BLT.
Ini cerita ; karena keinginan untuk mendapatkan BLT yang sedemikian kuat, seorang lelaki 2 anak datang ke kantor lurah. Ia memarahi sekretaris lurah karena tidak didata sebagai penerima BLT. “Bapak jangan pilih kasih. Saya juga miskin. Kenapa saya tidak terima BLT?” katanya. Si sekretaris lurah pun menjelaskan kriteria penerima BLT. “Penerima BLT adalah yang tidak memiliki rumah sendiri, sementara bapak punya rumah, punya motor juga”. Wajah warga tersebut memerah. “Tapi rumah dan motor itu bukan saya yang beli, pak!” katanya lalu menjelaskan bahwa rumah dan motornya dibelikan kakaknya yang menjadi TKI di Malaysia.
Kejadian serupa di atas mungkin juga terjadi di sekitar anda. Pertanyaan selanjutnya, apakah BLT itu sudah tepat sasaran dalam arti bahwa bantuan Rp. 300.000,- setiap keluarga itu benar-benar dimanfaatkan untuk keperluan yang memang seperlunya? Saya kira butuh penelitian lebih lanjut. Boleh jadi ada warga yang memang benar-benar miskin membelanjakan uang tersebut untuk keperluan makan sehari-hari, tapi barangkali juga ada yang menggunakannya untuk beli emas.
Ini cerita lagi ; suatu pagi, seorang pemuda mengamuk di depan rumahnya. Ia berteriak-teriak menantang semua warga yang melintas untuk adu jotos. Bahkan beberapa warga lari pontang panting karena di pemuda mengancam dengan golok. Bukan hanya itu, si pemuda tadi menebang pohon-pohon di sekitar rumahnya. Pohon pisang, pepaya dan bunga-bungaan semua dilibas. Warga bilang ia gila. Tapi belakangan diketahui bahwa si pemuda tadi mabuk setelah pesta miras. Ia mengambil uang BLT jatah ibunya lalu membeli minuman keras.
Ngomong soal BLT memang terlalu banyak yang memilukan. Belum lagi bila melihat tua renta di layar tivi yang terjepit saat antri berjam-jam di kantor pos. Bila ini tidak dihentikan, maka boleh jadi warga keenakan dan akan terus menagih bantuan serupa kepada pemerintah. Jangan kasih ikannya tapi kasihlah pancingnya! Perumpaan tersebut mungkin korelatif dengan persoalan BLT. Pemerintah sedianya berkonsentrasi membuka lapangan kerja seluas-luasnya ; bukan memberi bantuan cuma-cuma seperti BLT yang menuai pro kontra.
Sabtu, 01 Agustus 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar