Kamis, 30 Juli 2009

Kodingareng Keke

Sebelum senja menjemput malam, percakapan dua warga pulau itu belum berakhir. Baygong, seorang pemuda tak henti-hentinya bertanya. Sementara Samaila, nelayan paru baya berusaha menjawab ala kadarnya. "Kenapa pulau ini tidak dihuni, pak?" tanya Baygong. "Saya tidak tahu, tapi dulu pulau ini memang dijadikan sebagai tempat pemakaman para saudagar yang tewas tenggelam," jawab Samaila, "dulu pulau ini disebut Sapola".

Sapola adalah penamaan pulau Kodingareng Keke saat sebelum berpenghuni. Terletak di sebelah utara pulau Kodingareng Lompo yang berjarak kurang lebih 13 kilometer dari kota Makassar. Bentuknya memanjang dari timur laut hingga barat daya. Kodingareng Keke adalah satu pulau wisata yang ada di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan ; 15 menit waktu tempuh dengan menumpangi perahu jolloro.

"Dulu, pulau ini dijadikan medan tempur bagi tentara Jepang dan sekutu," kata Samaila, sementara Baygong menyimak dengan kening mengerut.
"Siapa yang pertama membangun rumah di sini, pak," tanya Baygong.
"Johannes Yakobus, warga asal belanda".
"Kenapa bukan pemerintah atau warga pulau di sekitar sini?"
"Tidak tahu, tanya sama pemerintah?" jawab Samaila sambil tertawa.

Ngomong-ngomong soal dulu, boleh jadi pulau ini tak dilirik. Namun saat ini, berubah menjadi salah satu pulau tujuan wisata andalan di Makassar. Pasir putih dan terumbu karang yang menawan menjadi daya tarik tersendiri di pulau seluas lima ratus meter persegi itu. "Di sana ada dua bangkai pesawat tempur," kata Samaila lalu menunjuk ke arah laut. Tidak jauh dari pulau itu, kata Samaila lagi, terdapat bangkai kapal perang yang dapat dilihat bila melakukan penyelaman.

Tidak tersedia transportasi reguler untuk menuju Pulau Kodingareng Keke. Namun wisatawan dapat menyewa sekoci 40 PK di Pantai Losari, Makassar. Tarifnya tiga ratus ribu rupiah. Sekoci tersebut berkapasitas sepuluh penumpang. Belum ada penghuni tetap di Kodingareng Keke. Namun beberapa bangunan semi permanen sudah terlihat, yang dikelola Johannes Yakobus. Terdapat pula daratan penghalang yang terbentuk akibat proses sedimentasi di sebelah baratnya. Dataran yang cukup luas akan dijumpai bila pasang terendah. Karena kondisi terumbu karang dan ikan-ikan masih terjaga dengan baik, panorama bawah laut di sekitar pulau ini tampak asri.

Saat hari mulai gelap. Baygong dan Samaila beranjak dari tempat duduknya ; berjalan di tengah hamparan pasir sehingga tampak jelas jejak kaki kedua warga pulau itu. Keduanya meninggalkan pulau Kodingareng Keke menuju pulau tetangga, Kodingareng Lompo. Baygong dan Samaila setidaknya meninggalkan sedikit cerita bagi anda yang mungkin ingin berwisata di sana. Bahkan tersedia cottage bagi anda yang ingin menginap bersama keluarga. Cottege bertarif murah yang berdiri tegak di tengah pulau yang boleh jadi dulu tak begitu menarik tapi kini menjadi menarik karena buah tangan warga Belanda.

0 komentar:

Poskan Komentar