Rabu, 12 Agustus 2009

Berburu Gambar Ekslusif

Beberapa hari terakhir ini, berita tentang perburuan teroris di tanah air menghiasi layar kaca televisi di rumah saya. Dan tentu di rumah anda juga. Mulai pagi, siang, malam, hingga pagi lagi, tayangan penyergapan teroris seolah-olah menjadi santapan favorit. Bukan lantaran saya tidak tertarik menonton berita lain, tetapi karena tidak ada pilihan lain -hampir semua tivi menayangkan berita seputar teroris.

Terlepas dari itu, salah satu yang menarik bagi saya adalah gambar ekslusif yang diklaim lebih dari satu tivi berita. Pertanyaannya, apakah yang dimaksud ekslusif dalam sudut pandang media televisi? Bila kemudian gambar yang ditayangkan adalah objeknya sama kendati dengan frame yang berbeda, apakah pantas dikatakan ekslusif?

Faktanya adalah proses penggerebekan rumah Mohzahri di Temanggung, Jawa Tengah, yang disebut-sebut sebagai tempat persembunyian komplotan teroris, bukan disorot satu kamera saja. Melainkan banyak kamera wartawan tivi yang merekam peristiwa itu. Masing-masing dengan posisi kamera yang berbeda tapi objeknya sama ; rumah Mohzahri dan sekitarnya.

Hemat saya, yang dimaksud ekslusif adalah sebuah peristiwa yang terekam oleh satu kamera saja, atau hanya ditayangkan satu stasiun televisi. Artinya yang lain tidak dapat gambar. Tetapi pada proses penggerebekan rumah Mohzahri diliput oleh banyak wartawan. Kendatipun masing-masing kamaeramen merekam dari sudut yang berbeda atau jarak pengambilan gambar yang berbeda.

Pertanyaannya, bila wartawan merekam kejadian dari jarak yang agak jauh sementara satu kamera lainnya merekam dari jarak yang lebih dekat tapi momentnya sama, gambar yang manakah yang disebut eklsusif ? Ataukah objeknya persis sama tapi waktu penayangan gambar tersebut yang berbeda, gambar yang menakah yang pantas disebut ekslusif?

Bila kecepatan menjadi barometer eklusifitas sebuah tayangan berita, maka yang menjadi alasan mendasar tidak eklusifnya sebuah gambar adalah keterbatasan teknologi yang digunakan atau dengan kata lain seberapa canggih alat pengiriman gambar secara live. Artinya faktor kelihaian seorang wartawan bukan faktor utama, karena meski sebuah peristiwa diliput oleh banyak wartawan, stasiun tivi bisa mengklaim gambarnya ekslusif bila ditayangkan lebih cepat.

Senin, 03 Agustus 2009

Mappanre Lemba

Tahukah anda ritual terbesar masyarakat nelayan Sumpang Minange, kecamatan Bacukiki, Parepare, Sulawesi Selatan? Mapanre lemba. Bagi masyarakat di sana, mapanre lemba berarti memberi makan kepada ikan. Ritual ini digelar setiap tahun secara turun temurun. Tidak ada yang memastikan kapan mapanre lemba mulai dilakukan, namun diperkirakan pesta besar ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam.

Berbagai macam sesajian diarak ke lepas pantai seperti nasi kentang tiga warna, putih, hitam dan kuning. Ada juga pisang, telur, ayam, dan kepala mudah. Sesaji ini disimpan di dalam kotak yang terbuat dari bambu.

Perahu yang membawa pengarak sesajian menuju lepas pantai dipandu seorang tokoh adat Sumpang Minange. Sesajian selanjutnya tersebut dilarung di empat penjuru mata angin yakni, barat, timur, utara dan selatan. Warga pesisir Sumpang Minange mempercayai empat batu yang merupakan unsur penguasa yaitu Batu Tengae (batu yang terletak di tengah laut), Cappa Batue (batu yang letaknya di bagian utara), Alili Batoe (batu yang terletak di bagian selatan tepatnya di pantai Lumpe, salah satu tempat wisata di Parepare, serta batu karami kanyuara (batu yang terletak di bagian timur pantai Sumpang Minangae.

Masyarakat Sumpang Binange percaya, hasil tangkapan mereka akan melimpah bila ritual mapanre lemba dilestarikan. Ritual memberi makanan kepada ikan di laut serupa juga digelar di beberapa tempat di Sulawesi Selatan antara lain di Kassi, kecamatan Kajang, kabupaten Bulukumba dan sungai Appareng Takkalala, kecamatan Sinjai Timur, kabupaten Sinjai. Kendati namanya berbeda namun subtansi dan maksud ritual tersebut memiliki kemiripan; sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan masyarakat nelayan setempat.

Sabtu, 01 Agustus 2009

Bukan Langsung Tunai

Seorang wartawan, teman saya juga, menanyakan tanggapan saya terhadap rencananya pemerintah menghentikan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahun 2010 mendatang. Saya bilang begini ; itu sudah tepat. Sudah terlalu banyak prediksi tentang program BLT kurang efektif yang kemudian pada kenyataannya memang terbukti tidak bisa mengurangi angka kemiskinan. Hemat saya, BLT hanyalah program pengucuran dana untuk meredam emosi rakyat menyusul kebijakan naiknya harga Bahan Bakar Minyak. Itu kemudian dipastikan bisa meminimalisir kemungkinan adanya gejolak di masyarakat. Dan alhasil, terbukti.

Faktanya adalah, masyarakat di negeri ini masih cenderung berharap-harap bantuan. Ini bisa dilihat dengan fenomena banyaknya warga yang protes karena tidak kebagian BLT. Boleh jadi sebelum adanya BLT, orang-orang malu mengaku miskin, namun saat program BLT direalisasikan, warga justru ramai-ramai ke kantor lurah melaporkan kemiskinannya. Bahkan tidak kurang yang marah-marah lantaran disebut tidak miskin dan tidak berhak menerima BLT.

Ini cerita ; karena keinginan untuk mendapatkan BLT yang sedemikian kuat, seorang lelaki 2 anak datang ke kantor lurah. Ia memarahi sekretaris lurah karena tidak didata sebagai penerima BLT. “Bapak jangan pilih kasih. Saya juga miskin. Kenapa saya tidak terima BLT?” katanya. Si sekretaris lurah pun menjelaskan kriteria penerima BLT. “Penerima BLT adalah yang tidak memiliki rumah sendiri, sementara bapak punya rumah, punya motor juga”. Wajah warga tersebut memerah. “Tapi rumah dan motor itu bukan saya yang beli, pak!” katanya lalu menjelaskan bahwa rumah dan motornya dibelikan kakaknya yang menjadi TKI di Malaysia.

Kejadian serupa di atas mungkin juga terjadi di sekitar anda. Pertanyaan selanjutnya, apakah BLT itu sudah tepat sasaran dalam arti bahwa bantuan Rp. 300.000,- setiap keluarga itu benar-benar dimanfaatkan untuk keperluan yang memang seperlunya? Saya kira butuh penelitian lebih lanjut. Boleh jadi ada warga yang memang benar-benar miskin membelanjakan uang tersebut untuk keperluan makan sehari-hari, tapi barangkali juga ada yang menggunakannya untuk beli emas.

Ini cerita lagi ; suatu pagi, seorang pemuda mengamuk di depan rumahnya. Ia berteriak-teriak menantang semua warga yang melintas untuk adu jotos. Bahkan beberapa warga lari pontang panting karena di pemuda mengancam dengan golok. Bukan hanya itu, si pemuda tadi menebang pohon-pohon di sekitar rumahnya. Pohon pisang, pepaya dan bunga-bungaan semua dilibas. Warga bilang ia gila. Tapi belakangan diketahui bahwa si pemuda tadi mabuk setelah pesta miras. Ia mengambil uang BLT jatah ibunya lalu membeli minuman keras.

Ngomong soal BLT memang terlalu banyak yang memilukan. Belum lagi bila melihat tua renta di layar tivi yang terjepit saat antri berjam-jam di kantor pos. Bila ini tidak dihentikan, maka boleh jadi warga keenakan dan akan terus menagih bantuan serupa kepada pemerintah. Jangan kasih ikannya tapi kasihlah pancingnya! Perumpaan tersebut mungkin korelatif dengan persoalan BLT. Pemerintah sedianya berkonsentrasi membuka lapangan kerja seluas-luasnya ; bukan memberi bantuan cuma-cuma seperti BLT yang menuai pro kontra.

Kamis, 30 Juli 2009

Kodingareng Keke

Sebelum senja menjemput malam, percakapan dua warga pulau itu belum berakhir. Baygong, seorang pemuda tak henti-hentinya bertanya. Sementara Samaila, nelayan paru baya berusaha menjawab ala kadarnya. "Kenapa pulau ini tidak dihuni, pak?" tanya Baygong. "Saya tidak tahu, tapi dulu pulau ini memang dijadikan sebagai tempat pemakaman para saudagar yang tewas tenggelam," jawab Samaila, "dulu pulau ini disebut Sapola".

Sapola adalah penamaan pulau Kodingareng Keke saat sebelum berpenghuni. Terletak di sebelah utara pulau Kodingareng Lompo yang berjarak kurang lebih 13 kilometer dari kota Makassar. Bentuknya memanjang dari timur laut hingga barat daya. Kodingareng Keke adalah satu pulau wisata yang ada di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan ; 15 menit waktu tempuh dengan menumpangi perahu jolloro.

"Dulu, pulau ini dijadikan medan tempur bagi tentara Jepang dan sekutu," kata Samaila, sementara Baygong menyimak dengan kening mengerut.
"Siapa yang pertama membangun rumah di sini, pak," tanya Baygong.
"Johannes Yakobus, warga asal belanda".
"Kenapa bukan pemerintah atau warga pulau di sekitar sini?"
"Tidak tahu, tanya sama pemerintah?" jawab Samaila sambil tertawa.

Ngomong-ngomong soal dulu, boleh jadi pulau ini tak dilirik. Namun saat ini, berubah menjadi salah satu pulau tujuan wisata andalan di Makassar. Pasir putih dan terumbu karang yang menawan menjadi daya tarik tersendiri di pulau seluas lima ratus meter persegi itu. "Di sana ada dua bangkai pesawat tempur," kata Samaila lalu menunjuk ke arah laut. Tidak jauh dari pulau itu, kata Samaila lagi, terdapat bangkai kapal perang yang dapat dilihat bila melakukan penyelaman.

Tidak tersedia transportasi reguler untuk menuju Pulau Kodingareng Keke. Namun wisatawan dapat menyewa sekoci 40 PK di Pantai Losari, Makassar. Tarifnya tiga ratus ribu rupiah. Sekoci tersebut berkapasitas sepuluh penumpang. Belum ada penghuni tetap di Kodingareng Keke. Namun beberapa bangunan semi permanen sudah terlihat, yang dikelola Johannes Yakobus. Terdapat pula daratan penghalang yang terbentuk akibat proses sedimentasi di sebelah baratnya. Dataran yang cukup luas akan dijumpai bila pasang terendah. Karena kondisi terumbu karang dan ikan-ikan masih terjaga dengan baik, panorama bawah laut di sekitar pulau ini tampak asri.

Saat hari mulai gelap. Baygong dan Samaila beranjak dari tempat duduknya ; berjalan di tengah hamparan pasir sehingga tampak jelas jejak kaki kedua warga pulau itu. Keduanya meninggalkan pulau Kodingareng Keke menuju pulau tetangga, Kodingareng Lompo. Baygong dan Samaila setidaknya meninggalkan sedikit cerita bagi anda yang mungkin ingin berwisata di sana. Bahkan tersedia cottage bagi anda yang ingin menginap bersama keluarga. Cottege bertarif murah yang berdiri tegak di tengah pulau yang boleh jadi dulu tak begitu menarik tapi kini menjadi menarik karena buah tangan warga Belanda.