Beberapa bulan terakhir ini, banyak orang dipusingkan dengan tokek. Tiba-tiba saja mahluk tuhan yang satu itu disebut-sebut bernilai jual tinggi. Bukan main-main, harganya bisa mencapai delapan ratus juta rupiah. “Apa benar seekor tokek harganya segitu? Saya tidak percaya!” kata seorang teman saya. Saya bilang begini, kamu percaya atau tidak tapi soal harga tokek yang selangit itu sudah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. “Makanya jangan nonton gosip di tivi terus. Lama-lama kamu jadi tukang gosip juga seperti ibu-ibu kampung yang menggosipi tetangganya sendiri sambil cari kutu”.
Dan suatu hari, di warung kopi, seorang pria setengah baya datang dengan senyum sumringah. Nampak senang sekali. Beberapa temannya sudah menunggu. Samar-samar saya dengar pembicaraan mereka. “Pembeli tokek itu kapan datang?” Rupa-rupanya mereka berbicara tentang tokek juga. “Tunggu saja, saya sudah kontak beberapa pembeli di Jakarta”.
Satu orang menelepon. “Jadi bagaimana, pak. Teman saya punya tiga ekor. Kira-kira kapan bisa datang liat barangnya!” Semakin jelas pembicaraan mereka di telinga saya. Ia menghubungi nomor telepon seorang pembeli tokek yang baru saja didapat di internet. “Ooo, begitu. Baiklah, pak! Nanti saya telepon balik,” katanya sambil manggut-manggut.
“Jadi begini,…” kawanan pemilik tokek melanjutkan diskusi, “tokek yang beratnya 3,5 ons harganya seratus lima pulu juta rupiah. Kalau beratnya 4 atau 5 ons bisa mencapai lima hingga delapan ratus juta rupiah”. Nah, itu susahnya. Tokek yang di rumah belum ditimbang. Kalau tokek yang di rumahku itu tidak cukup 3,5 ons, bagaimana?
Wah, mendengar pembicaraan mereka, saya jadi ingin naik haji. Seperti beberapa karakter dalam film Para Pencari Tuhan yang dengan kemiskinannya selalu merindukan Mekah. Bayangkan saja, laku satu ekor tokek seberat 3,5 ons, kita bisa naik haji tiga kali. Bahkan sudah bisa membawa pulang oleh-oleh buat keluarga dan teman-teman. Tapi, saya kembali teringat kata-kata seseorang, bahwa persoalan naik haji itu sama dengan jodoh, karena banyak orang yang punya banyak uang tapi tidak berjodoh dengan Baitullah.
Beberapa hari kemudian saya mendengar kabar tentang sekawanan pemilik tokek di warung kopi. Ternyata tokek yang disebut-disebut bersarang di rumahnya itu masih kecil-kecil. Setelah melakukan pengejaran yang cukup sengit dengan susah-suah naik plafon rumahnya, ternyata tokeknya hanya 1,5 ons. Sementara kabarnya, pembeli tidak membeli yang beratnya dibawah 3,5 ons. Saya bilang, kalau begitu, tokeknya masih butuh makan selama bertahun-tahun.
Tentang perburuan tokek memang sudah merebak. Seseorang yang saya kenal, bahkan rela naik motor ratusan kilometer mencari tokek. Ia memasang harga lima hingga sepuluh juta rupiah. Wah, dapat seekor tokek 3,5 ons saja, ia bisa untung seratus empat puluh juta rupiah. Tapi dengar-dengar sampai sekarang ia belum berhasil. Malahan, ia berhenti berburu tokek dan kembali ke pekerjaan awalnya sebagai penceramah yang masih berusaha bijak. Ibarat tokek, bunyinya membosankan, sama yang dulu-dulu ; to’keee…
Langgan:
Entri (Atom)